SEKOLAH
TINGGI THEOLOGIA BASOM
PROGRAM
S2 (M.Pd.K)
MATA KULIAH
THEOLOGI PENDIDIKAN KRISTEN
MAKALAH
KEDUDUKAN
DAN PENGARUH SISWA DALAM SUATU SEKOLAH

Oleh : ALFRIETS DENNY OROH, S.Th
Januari 2016
DAFTAR ISI
I.
PENDAHULUAN
………………………………………………………. 1
II.
KEBERADAAN SISWA DI SEKOLAH ………………………………... 1
A.
HAK DAN KEWAJIBAN SISWA DI SEKOLAH …………………... 1
B.
KEWAJIBAN SISWA DI RUMAH …………………………………. 4
III.
SISWA DIPANDANGAN SECARA FILOSOFIS THEOLOGIS ……….. 4
A.
SISWA ADALAH SUBYEK DI SEKOLAH ………………………... 5
B.
SISWA ADALAH OBYEK DALAM PEMBELAJARAN …………... 6
IV.
KESIMPULAN, PERAN DAN FUNGSI SISWA DALAM SEKOLAH
… 7
I.
PENDAHULUAN
Berangkat dari keadaan hidup
sehari-hari tentang suatu lembaga pendidikan atau yang lebih sering dikenal dengan
istilah sekolah, maka sangat perlu untuk dibahas menjadi suatu topik yang lebih
banyak membicarakan tentang siswa atau murid. Murid atau siswa dalam suatu
lembaga pendidikan memberikan warna dan arti yang sangat dalam untuk sebuah
sekolah. Pada umumnya sebuah sekolah disebut berhasil dan bermutu apabila
banyak murid atau siswanya, dan lagi suatu sekolah tidak mungkin dapat berjalan
dalam proses belajar mengajarnya apabila tidak ada murid atau siswa di dalam
sekolah itu. Dengan dan melalui siswa atau murid yang ada di sebuah sekolah
sangat menggambarkan tentang sekolah itu sendiri, artinya sekolah dapat disebut
maju dan berkembang apabila mempunyai murid atau siswa yang banyak.
Tidak hanya itu saja, bonafitsitas
suatu sekolah juga tidak dapat terlepas dari jumlah murid yang bersekolah di
sekolah itu. Untuk itu dalam kesempatan ini sangat baik apabila dibahas tentang
kedudukan dan pengaruh siswa dalam suatu
sekolah.
II.
KEBERADAAN
SISWA DI SEKOLAH
Adalah suatu pemandangan yang
umum apabila diperhatikan di satu sekolah terdapat siswa siswi didalamnya. Apabila
di suatu sekolah tidak ada murid didalamnya maka sekolah itu dapat dikatakan
bukan sebagai sekolah yang sesungguhnya. Siswa adalah komponen masukan dalam sistem pendidikan, yang
selanjutnya diproses dalam proses pendidikan, sehingga menjadi manusia yang
berkualitas sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Sebagai suatu komponen
pendidikan, siswa dapat ditinjau dari berbagai pendekatan, antara lain:
pendekatan sosial, pendekatan psikologis, dan pendekatan edukatif/pedagogis. (https://
id.wikipedia.org /wiki/ Peserta_didik) Tidak hanya pendekatan sosial,
psikologis dan edukatif saja, tetapi juga yang tidak kalah pentingnya yaitu
pendekatan spiritual/rohani harus diberikan juga kepada siswa siswi atau peserta
didik. Untuk itu sangat perlu dibahas dua hal penting yaitu.
A. HAK DAN KEWAJIBAN SISWA DI SEKOLAH
Ketika seorang anak bersekolah dan menjadi
seorang murid di suatu sekolah, dia sudah ada dalam suatu ikatan yang berlaku
dua arah yaitu murid mempunyai hak di sekolah dimana dia belajar dan juga
kewajiban yang harus dipenuhi oleh seorang murid di dalam setiap kegiatannya di
sekolah. Adapun yang menjadi hak seorang murid adalah :
Hak akan diperoleh
setelah kewajiban dipenuhi. Hak siswa atau siswi di sekolah antara lain sebagai
berikut :
1.
Mendapatkan pendidikan
dan pengajaran semaksimal mungkin.
2.
Menggunakan fasilitas
pembelajaran sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku untuk
mengembangkan potensi yang dimiliki oleh murid.
3.
Mendapatkan penghargaan berupa
piagam penghargaan atas prestasi yang dicapai guna mendorong murid untuk
semakin berprestasi maupun mempertahankan prestasi yang sudah didapatnya pada
waktu lalu.
4.
Mendapatkan porsi
pengembangan sesuai potensi yang dimiliki demi terewujudnya explorasi diri
murid secara pribadi maupun kelompok.
5.
Memperoleh bimbingan dan
konsultasi secara optimal dalam mengatasi berbagai masalah yang dihadapinya
dalam rangka mengembangkan kepribadian murid itu sendiri.
6.
Mendapatkan perlindungan
selama berada di lingkungan sekolah pada jam belajar dan penugasan supaya murid
merasa aman dan nyaman.
7.
Mendapatkan laporan dan
umpan balik hasil proses pendidikan yang diikutinya berupa buku rapor yang
selalu terdapat penilaian-penilaian terhadap murid.
Murid atau siswa tidak hanya menuntut dan memperhatikan
hak-haknya tapi juga harus memperhatikan dan melakukan segala kewajiban murid
di sekolah. Adapun yang menjadi kewajiban murid adalah
1.
Mengikuti seluruh
kegiatan sekolah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
2.
Meninggalkan lingkungan
sekolah segera setelah kegiatan yang diikutinya berakhir.
3.
Mewujudkan dan memelihara
ketertiban, keamanan, keindahan, kekeluargaan dan kerindangan
4.
Hadir di sekolah sebelum
bel sekolah dibunyikan.
5.
Memberi keterangan
izin/sakit/berhalangan yang sah (dari orang tua/wali/dokter/polisi) pada saat
tidak masuk sekolah.
6.
Siswa wajib mengikuti
Upacara Bendera dan apel.
7.
Siswa wajib memelihara
seluruh fasilitas yang ada di lingkungan sekolah.
8.
Menyiapkan, menggunakan
dan memelihara seluruh peralatan dan perlengkapan belajar mengajar.
9.
Mematuhi berbagai
ketentuan khusus yang mengatur pengunaan fasilitas di lingkungan sekolah.
10.
Siswa wajib menggunakan
pakaian sesuai dengan jadwal dan ketentuan yang telah ditetapkan.
11.
Rambut harus rapi, tidak
dicat dan tidak mengganggu belajar (untuk siswa putra tidak melebihi kerah
kemeja, alis mata dan telinga)
12.
Siswa wajib membawa alat
-alat belajar (buku paket, buku catatan, buku tugas, dan alat- alat
tulis)
13.
Siswa tidak diperkenankan
meninggalkan kelas tanpa seizin guru kelas atau guru piket.
14.
Siswa tidak boleh membawa
barang-barang yang tidak berhubungan dengan pelajaran ke sekolah.
15.
Siswa wajib mengikuti
ulangan yang diadakan sekolah.
B.
KEWAJIBAN SISWA DI RUMAH
Kewajiban
seorang murid di sekolah harus juga dibarengi dengan kewajibannya yang harus
ada di rumah. Mengapa seorang murid tidak ada dan tidak dapat menuntut haknya
di rumah? Karena pada hakekatnya tuntutan hak seorang murid hanya berlaku di
sekolah sebagai tempat dimana dia menimba ilmu dan menerima pengetahuan dari seorang
guru, dan bukan di rumah. Pada umumnya kewajiban seorang murid di rumah sangat
mengarah kepada sikap praktis dan hal itu harus menjadi suatu gaya hidup untuk
masa depannya. Ada beberapa kewajiban seorang murid di rumah antara lain
1.
Menata kembali tempat tidur sehabis bangun
tidur,terutama di pagi hari.
2.
Beribadah melakukan kewajiban kepada Tuhan
dengan ibu dan ayah saya serta saudara-saudaranya.
3.
Membantu ayah dan ibu di rumah dengan tulus
ikhlas. Contohnya antara lain : menyapu halaman rumah.
4.
Belajar, yaitu mengulangi pelajaran yang sudah
diterima di sekolah supaya bisa menghafalnya.
III.
SISWA
DIPANDANGAN SECARA FILOSOFIS THEOLOGIS
Secara theologis sangat jelas
disebutkan bahwa seorang murid atau siswa pada mulanya ada adalah untuk suatu
maksud dan tujuan yaitu memuji dan memuliakan Tuhan (1 Taw 25:8). Dalam satu
tulisan di https://afidburhanuddin.wordpress.com/
afit mengemukakan tentang hakekat seorang murid dalam aliran perenialisme
merupakan mahkluk yang di bimbing oleh prinsip-prinsip pertama,
kebenaran-kebenaran abadi, pikiran mengangkat dunia biologis. Hakikat
pendidikan upaya proses transformasi pengetahuan dan nilai pada subyek didik.
Mencakup totalitas aspek kemanusiaan , kesadaran, dan sikap dan tindakan
kritis, terhadap fenomena yang terjadi di sekitarnya, yang berarti bahwa murid
mempunyai kebutuhan yang harus diisi oleh prinsip yang benar dan kebenaran
abadi serta pengetahuan yang sifatnya umum untuk dapat mencapai tujuan
kepribadian manusia yang menyeluruh secara seimbang melalui latihan jiwa,
intelek, diri manusia yang rasianaol, perasaan dan indera, karena itu
pendidikan harus mencakup pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya.
Di samping siswa memahami
literatur, Idealisme menganggap perlu terbentuknya manusia yang baik. Untuk itu
siswa tidak hanya didorong untuk mengembangkan skill dan akal pikiran, tetapi
juga menanamkan nilai-nilai kebaikan yg secara naluri sudah ada. Bagi idealist
maka nilai-nilai mencerminkan kebaikan yang terkandung pada alam semesta.
Nilai-nilai ini bersifat absolut, universal dan tidak berubah. Tindakan etis
muncul dari warisan budaya. Pendidik mengajarkan kepada murid-muridnya akan
nilai- nilai unggul dari mahakarya manusia yang bertahan dari masa ke masa.
Karena itu, pendidikan selayaknya
dibangun dalam konsep manusia sebagai homo potens yaitu manusia yang sejak
lahir membawa potensi dan bakat dalam dirinya. Pendidikan harus bersifat
membela kebutuhan dan pembangunan kemandirian manusia, membangun keberpihakan kepada
jati diri manusia. Model pendidikan ini, manusia dipandang sebagai subjek yang
otonom sehingga pendidikan harus berpusat pada peserta didik dan bukan pada
pendidik.
Jadi sangat jelas bahwa manusia
yang pada dasarnya adalah murid atau siswa bukanlah kertas putih yang
dituliskan melainkan dengan keberdosaan manusia dapat diterangkan bahwa murid
itu seperti kertas kotor berdebu oleh dosa dan dibersihkan dengan kebenaran dan
pengetahuan yang disebut kontra tabula rasa.
A. SISWA ADALAH SUBYEK DI SEKOLAH
Sasaran pendidikan adalah manusia.
Pendidikan bermaksud untuk membantu peserta didik (sebagai manusia utuh) untuk
mengembangkan potensi-potensi kemanusiaannya. Pemahaman pendidik terhadap
hakikat manusia akan membentuk peta tentang karakteristik manusia yang akan
rnenjadi landasan dan acuan baginya dalam bersikap, menyusuh strategi, metode
dan teknik, serta memilih pendekatan dan orientasi dalam merancang dan melaksanakan
komunikasi transaksional di dalam interaksi edukatif'.
Keunikan manusia terletak dalam
fakta bahwa manusia memberikan makna- makna simbolik bagi tindakan-tindakan
mereka. Manusia menciptakan rangkaian gagasan dan cita-cita yang rinci dan
menggunakan konstruk mental ini dalam mengarahkan pola perilaku mereka.
Berbagai karakteristik pola perilaku yang berbeda- beda dalam masyarakat yang
berbeda dilihat sebagai hasil serangkaian gagasan dan cita- cita yang berbeda
pula. Paham idealisme memandang bahwa cita-cita (yang bersifat luhur) adalah
sasaran yang harus dikejar dalam tindakan manusia. Manusia menggunakan akalnya
untuk bertindak dalam kehidupan sehari-hari baik untuk dirinya dan masyarakat.
B.
SISWA
ADALAH OBYEK DALAM PEMBELAJARAN
Dalam proses pembelajaran sangat
jelas kepada siapa pembelajaran itu diberikan dan pembelajaran itu berupa
pengajaran. Di satu sisi, mandat pengajaran Kristen menanggung suatu tujuan.
Mereka yang belajar tentang Tuhan harus memberikan respons positif kepada-Nya.
Hampir selalu, ketika tujuan pengajaran Kristen diangkat,
"kedewasaan" muncul. Asumsi kita terhadap kata kunci ini cenderung
terlalu umum, dan asumsi semacam itu menimbulkan kebingungan.
Alkitab setidaknya menggunakan
tiga kata yang berbeda sebagai tujuan pengajaran dan alat ukur kedewasaan.
Kedewasaan harus terlihat dalam relasi, moralitas, dan teologi. 1 Timotius,
Ibrani, dan Efesus menyatakan tanda-tanda kedewasaan ini dengan jelas. Banyak
pasal lain yang setema dengan pasal-pasal itu. Namun, kejelasan pengungkapan
dari pasal-pasal ini membuat pasal-pasal ini menjadi rangkuman yang ideal.
1 Timotius 1:5: "Tujuan
nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang
murni dan dari iman yang tulus ikhlas." Untuk tujuan-tujuan kita, inti
pokok dari ayat ini benar-benar jelas dan hampir tidak mengherankan. Tujuan
Paulus dalam pengajarannya adalah untuk menghasilkan KASIH dalam hidup para
murid. Jika kasih itu belum ada, tujuan perintah itu belum tercapai. Ayat yang
sederhana ini mengikat sejumlah besar ayat dalam Perjanjian Baru. Perhatikan
bagaimana pasal-pasal berikut ini menitikberatkan kasih
IV.
KESIMPULAN
PERAN DAN FUNGSI SISWA DALAM SEKOLAH
Berdasarkan beberapa penjelasan di
atas, sangat jelas dan tegas diutarakan bahwa seorang siswa atau murid tidak
dapat dilepaskan dan berdiri sendiri diluar sekolah. Sekolah mempunyai
keterikatan yang sangat kuat kepada seorang murid. Lalu apa yang menjadi peran
dan fungsi siswa dalam sekolah.
Peran siswa di sekolah adalah
memberikan warna dan pengaruh yang sangat besar di dalam sekolah baik itu
secara positif maupun negatif. Mengapa demikian oleh karena apabila siswa tidak
melakukan dengan baik dan benar atas semua yang sudah diajarkan oleh guru
disekolah maka jelas tidak akan terlihat peranan yang berarti dari murid itu,
tapi bisa jadi malah merusak keadaan yang sudah baik di sekolah itu.
Adapun fungsi murid disekolah
adalah memberikan kelengkapan yang pasti untuk sebuah intitusi yang disebut
sekolah. Murid sangat berpengaruh untuk suatu sekolah dalam proses belajar
mengajar.
Jadi peran dan fungsi siswa
mendorong tercapainya dunia pendidikan yang sejalan dengan tujuan dari
pendidikan itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar