Selasa, 29 Maret 2016

SEKOLAH TINGGI THEOLOGIA BASOM
PROGRAM S2 (M.Pd.K)

MATA KULIAH
THEOLOGI PENDIDIKAN KRISTEN
MAKALAH
KEDUDUKAN DAN PENGARUH SISWA DALAM SUATU SEKOLAH       











Oleh : ALFRIETS DENNY OROH, S.Th

Januari  2016





DAFTAR ISI

I.                   PENDAHULUAN      ……………………………………………………….    1
II.                KEBERADAAN SISWA DI SEKOLAH    ………………………………...   1
A.    HAK DAN KEWAJIBAN SISWA DI SEKOLAH   …………………...   1
B.     KEWAJIBAN SISWA DI RUMAH    ………………………………….    4
III.             SISWA DIPANDANGAN SECARA FILOSOFIS THEOLOGIS  ………..   4
A.    SISWA ADALAH SUBYEK DI SEKOLAH   ………………………...    5
B.     SISWA ADALAH OBYEK DALAM PEMBELAJARAN  …………...   6
IV.             KESIMPULAN, PERAN DAN FUNGSI SISWA DALAM SEKOLAH …   7











I.                   PENDAHULUAN
Berangkat dari keadaan hidup sehari-hari tentang suatu lembaga pendidikan atau yang lebih sering dikenal dengan istilah sekolah, maka sangat perlu untuk dibahas menjadi suatu topik yang lebih banyak membicarakan tentang siswa atau murid. Murid atau siswa dalam suatu lembaga pendidikan memberikan warna dan arti yang sangat dalam untuk sebuah sekolah. Pada umumnya sebuah sekolah disebut berhasil dan bermutu apabila banyak murid atau siswanya, dan lagi suatu sekolah tidak mungkin dapat berjalan dalam proses belajar mengajarnya apabila tidak ada murid atau siswa di dalam sekolah itu. Dengan dan melalui siswa atau murid yang ada di sebuah sekolah sangat menggambarkan tentang sekolah itu sendiri, artinya sekolah dapat disebut maju dan berkembang apabila mempunyai murid atau siswa yang banyak.
Tidak hanya itu saja, bonafitsitas suatu sekolah juga tidak dapat terlepas dari jumlah murid yang bersekolah di sekolah itu. Untuk itu dalam kesempatan ini sangat baik apabila dibahas tentang kedudukan dan pengaruh siswa dalam suatu sekolah.

II.                KEBERADAAN SISWA DI SEKOLAH
Adalah suatu pemandangan yang umum apabila diperhatikan di satu sekolah terdapat siswa siswi didalamnya. Apabila di suatu sekolah tidak ada murid didalamnya maka sekolah itu dapat dikatakan bukan sebagai sekolah yang sesungguhnya. Siswa adalah komponen masukan dalam sistem pendidikan, yang selanjutnya diproses dalam proses pendidikan, sehingga menjadi manusia yang berkualitas sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Sebagai suatu komponen pendidikan, siswa dapat ditinjau dari berbagai pendekatan, antara lain: pendekatan sosial, pendekatan psikologis, dan pendekatan edukatif/pedagogis. (https:// id.wikipedia.org /wiki/ Peserta_didik) Tidak hanya pendekatan sosial, psikologis dan edukatif saja, tetapi juga yang tidak kalah pentingnya yaitu pendekatan spiritual/rohani harus diberikan juga kepada siswa siswi atau peserta didik. Untuk itu sangat perlu dibahas dua hal penting yaitu.

A.       HAK DAN KEWAJIBAN SISWA DI SEKOLAH
 Ketika seorang anak bersekolah dan menjadi seorang murid di suatu sekolah, dia sudah ada dalam suatu ikatan yang berlaku dua arah yaitu murid mempunyai hak di sekolah dimana dia belajar dan juga kewajiban yang harus dipenuhi oleh seorang murid di dalam setiap kegiatannya di sekolah. Adapun yang menjadi hak seorang murid adalah :
   Hak akan diperoleh setelah kewajiban dipenuhi. Hak siswa atau siswi di sekolah antara lain sebagai berikut :
1.         Mendapatkan pendidikan dan pengajaran semaksimal mungkin.
2.        Menggunakan fasilitas pembelajaran sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh murid.
3.        Mendapatkan penghargaan berupa piagam penghargaan atas prestasi yang dicapai guna mendorong murid untuk semakin berprestasi maupun mempertahankan prestasi yang sudah didapatnya pada waktu lalu.
4.        Mendapatkan porsi pengembangan sesuai potensi yang dimiliki demi terewujudnya explorasi diri murid secara pribadi maupun kelompok.
5.        Memperoleh bimbingan dan konsultasi secara optimal dalam mengatasi berbagai masalah yang dihadapinya dalam rangka mengembangkan kepribadian murid itu sendiri.
6.        Mendapatkan perlindungan selama berada di lingkungan sekolah pada jam belajar dan penugasan supaya murid merasa aman dan nyaman.
7.        Mendapatkan laporan dan umpan balik hasil proses pendidikan yang diikutinya berupa buku rapor yang selalu terdapat penilaian-penilaian terhadap murid.

Murid atau siswa tidak hanya menuntut dan memperhatikan hak-haknya tapi juga harus memperhatikan dan melakukan segala kewajiban murid di sekolah. Adapun yang menjadi kewajiban murid adalah
1.         Mengikuti seluruh kegiatan sekolah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
2.        Meninggalkan lingkungan sekolah segera setelah kegiatan yang diikutinya berakhir.
3.        Mewujudkan dan memelihara ketertiban, keamanan, keindahan, kekeluargaan dan kerindangan
4.        Hadir di sekolah sebelum bel sekolah dibunyikan.
5.        Memberi keterangan izin/sakit/berhalangan yang sah (dari orang tua/wali/dokter/polisi) pada saat tidak masuk sekolah.
6.        Siswa wajib mengikuti Upacara Bendera dan apel.
7.        Siswa wajib memelihara seluruh fasilitas yang ada di lingkungan sekolah.
8.        Menyiapkan, menggunakan dan memelihara seluruh peralatan dan perlengkapan belajar mengajar.
9.        Mematuhi berbagai ketentuan khusus yang mengatur pengunaan fasilitas di lingkungan sekolah.
10.     Siswa wajib menggunakan pakaian sesuai dengan jadwal dan ketentuan yang telah ditetapkan.
11.      Rambut harus rapi, tidak dicat dan tidak mengganggu belajar (untuk siswa putra tidak melebihi kerah kemeja, alis mata dan telinga)
12.     Siswa wajib membawa alat -alat belajar (buku paket, buku catatan, buku tugas, dan alat- alat tulis) 
13.     Siswa tidak diperkenankan meninggalkan kelas tanpa seizin guru kelas atau guru piket.
14.     Siswa tidak boleh membawa barang-barang yang tidak berhubungan dengan pelajaran ke sekolah.
15.     Siswa wajib mengikuti ulangan yang diadakan sekolah.

B.       KEWAJIBAN SISWA DI RUMAH
Kewajiban seorang murid di sekolah harus juga dibarengi dengan kewajibannya yang harus ada di rumah. Mengapa seorang murid tidak ada dan tidak dapat menuntut haknya di rumah? Karena pada hakekatnya tuntutan hak seorang murid hanya berlaku di sekolah sebagai tempat dimana dia menimba ilmu dan menerima pengetahuan dari seorang guru, dan bukan di rumah. Pada umumnya kewajiban seorang murid di rumah sangat mengarah kepada sikap praktis dan hal itu harus menjadi suatu gaya hidup untuk masa depannya. Ada beberapa kewajiban seorang murid di rumah antara lain
1.         Menata kembali tempat tidur sehabis bangun tidur,terutama di pagi hari. 
2.         Beribadah melakukan kewajiban kepada Tuhan dengan ibu dan ayah saya serta saudara-saudaranya. 
3.         Membantu ayah dan ibu di rumah dengan tulus ikhlas. Contohnya antara lain : menyapu halaman rumah. 
4.         Belajar, yaitu mengulangi pelajaran yang sudah diterima di sekolah supaya bisa menghafalnya.

III.             SISWA DIPANDANGAN SECARA FILOSOFIS THEOLOGIS
Secara theologis sangat jelas disebutkan bahwa seorang murid atau siswa pada mulanya ada adalah untuk suatu maksud dan tujuan yaitu memuji dan memuliakan Tuhan (1 Taw 25:8). Dalam satu tulisan di https://afidburhanuddin.wordpress.com/ afit mengemukakan tentang hakekat seorang murid dalam aliran perenialisme merupakan mahkluk yang di bimbing oleh prinsip-prinsip pertama, kebenaran-kebenaran abadi, pikiran mengangkat dunia biologis. Hakikat pendidikan upaya proses transformasi pengetahuan dan nilai pada subyek didik. Mencakup totalitas aspek kemanusiaan , kesadaran, dan sikap dan tindakan kritis, terhadap fenomena yang terjadi di sekitarnya, yang berarti bahwa murid mempunyai kebutuhan yang harus diisi oleh prinsip yang benar dan kebenaran abadi serta pengetahuan yang sifatnya umum untuk dapat mencapai tujuan kepribadian manusia yang menyeluruh secara seimbang melalui latihan jiwa, intelek, diri manusia yang rasianaol, perasaan dan indera, karena itu pendidikan harus mencakup pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya.
Di samping siswa memahami literatur, Idealisme menganggap perlu terbentuknya manusia yang baik. Untuk itu siswa tidak hanya didorong untuk mengembangkan skill dan akal pikiran, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebaikan yg secara naluri sudah ada. Bagi idealist maka nilai-nilai mencerminkan kebaikan yang terkandung pada alam semesta. Nilai-nilai ini bersifat absolut, universal dan tidak berubah. Tindakan etis muncul dari warisan budaya. Pendidik mengajarkan kepada murid-muridnya akan nilai- nilai unggul dari mahakarya manusia yang bertahan dari masa ke masa.
Karena itu, pendidikan selayaknya dibangun dalam konsep manusia sebagai homo potens yaitu manusia yang sejak lahir membawa potensi dan bakat dalam dirinya. Pendidikan harus bersifat membela kebutuhan dan pembangunan kemandirian manusia, membangun keberpihakan kepada jati diri manusia. Model pendidikan ini, manusia dipandang sebagai subjek yang otonom sehingga pendidikan harus berpusat pada peserta didik dan bukan pada pendidik.
Jadi sangat jelas bahwa manusia yang pada dasarnya adalah murid atau siswa bukanlah kertas putih yang dituliskan melainkan dengan keberdosaan manusia dapat diterangkan bahwa murid itu seperti kertas kotor berdebu oleh dosa dan dibersihkan dengan kebenaran dan pengetahuan yang disebut kontra tabula rasa.

A.      SISWA ADALAH SUBYEK DI SEKOLAH  
Sasaran pendidikan adalah manusia. Pendidikan bermaksud untuk membantu peserta didik (sebagai manusia utuh) untuk mengembangkan potensi-potensi kemanusiaannya. Pemahaman pendidik terhadap hakikat manusia akan membentuk peta tentang karakteristik manusia yang akan rnenjadi landasan dan acuan baginya dalam bersikap, menyusuh strategi, metode dan teknik, serta memilih pendekatan dan orientasi dalam merancang dan melaksanakan komunikasi transaksional di dalam interaksi edukatif'.
Keunikan manusia terletak dalam fakta bahwa manusia memberikan makna- makna simbolik bagi tindakan-tindakan mereka. Manusia menciptakan rangkaian gagasan dan cita-cita yang rinci dan menggunakan konstruk mental ini dalam mengarahkan pola perilaku mereka. Berbagai karakteristik pola perilaku yang berbeda- beda dalam masyarakat yang berbeda dilihat sebagai hasil serangkaian gagasan dan cita- cita yang berbeda pula. Paham idealisme memandang bahwa cita-cita (yang bersifat luhur) adalah sasaran yang harus dikejar dalam tindakan manusia. Manusia menggunakan akalnya untuk bertindak dalam kehidupan sehari-hari baik untuk dirinya dan masyarakat.

B.                 SISWA ADALAH OBYEK DALAM PEMBELAJARAN
Dalam proses pembelajaran sangat jelas kepada siapa pembelajaran itu diberikan dan pembelajaran itu berupa pengajaran. Di satu sisi, mandat pengajaran Kristen menanggung suatu tujuan. Mereka yang belajar tentang Tuhan harus memberikan respons positif kepada-Nya. Hampir selalu, ketika tujuan pengajaran Kristen diangkat, "kedewasaan" muncul. Asumsi kita terhadap kata kunci ini cenderung terlalu umum, dan asumsi semacam itu menimbulkan kebingungan.
Alkitab setidaknya menggunakan tiga kata yang berbeda sebagai tujuan pengajaran dan alat ukur kedewasaan. Kedewasaan harus terlihat dalam relasi, moralitas, dan teologi. 1 Timotius, Ibrani, dan Efesus menyatakan tanda-tanda kedewasaan ini dengan jelas. Banyak pasal lain yang setema dengan pasal-pasal itu. Namun, kejelasan pengungkapan dari pasal-pasal ini membuat pasal-pasal ini menjadi rangkuman yang ideal.
1 Timotius 1:5: "Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas." Untuk tujuan-tujuan kita, inti pokok dari ayat ini benar-benar jelas dan hampir tidak mengherankan. Tujuan Paulus dalam pengajarannya adalah untuk menghasilkan KASIH dalam hidup para murid. Jika kasih itu belum ada, tujuan perintah itu belum tercapai. Ayat yang sederhana ini mengikat sejumlah besar ayat dalam Perjanjian Baru. Perhatikan bagaimana pasal-pasal berikut ini menitikberatkan kasih

IV.             KESIMPULAN
PERAN DAN FUNGSI SISWA DALAM SEKOLAH
Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, sangat jelas dan tegas diutarakan bahwa seorang siswa atau murid tidak dapat dilepaskan dan berdiri sendiri diluar sekolah. Sekolah mempunyai keterikatan yang sangat kuat kepada seorang murid. Lalu apa yang menjadi peran dan fungsi siswa dalam sekolah.
Peran siswa di sekolah adalah memberikan warna dan pengaruh yang sangat besar di dalam sekolah baik itu secara positif maupun negatif. Mengapa demikian oleh karena apabila siswa tidak melakukan dengan baik dan benar atas semua yang sudah diajarkan oleh guru disekolah maka jelas tidak akan terlihat peranan yang berarti dari murid itu, tapi bisa jadi malah merusak keadaan yang sudah baik di sekolah itu.
Adapun fungsi murid disekolah adalah memberikan kelengkapan yang pasti untuk sebuah intitusi yang disebut sekolah. Murid sangat berpengaruh untuk suatu sekolah dalam proses belajar mengajar.
Jadi peran dan fungsi siswa mendorong tercapainya dunia pendidikan yang sejalan dengan tujuan dari pendidikan itu sendiri.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar